Negeri Sungai yang Diborgol
Pada zaman ketika langit masih mau mendengarkan doa dan tanah masih mau menumbuhkan harapan, ada sebuah negeri luas bernama Lembah Alara. Negeri ini dikenal bukan karena emas atau istana megah, melainkan karena satu hal yang membuat semua makhluk datang dan menetap: sungai abadi.
Sungai itu bernama Sungai Luma.
Airnya jernih seperti kaca pagi, alirannya tenang namun kuat, dan cabang-cabangnya menyebar ke seluruh lembah seperti urat nadi. Dari Sungai Luma, sawah tumbuh, hutan bernafas, dan makhluk hidup belajar hidup berdampingan.
Di Lembah Alara, tak hanya satu jenis makhluk hidup. Ada rusa, burung, beruang, kura-kura, ikan, serigala, dan bahkan kawanan unta yang sesekali datang dari padang jauh. Mereka hidup dengan satu kesepakatan tua yang tak pernah tertulis:
Air tidak boleh dimiliki. Air hanya boleh dijaga.
Pemimpin lembah adalah Kerbau Tua bernama Mahesa. Tubuhnya besar, tanduknya melengkung indah, namun langkahnya lambat. Mahesa tidak memimpin dengan suara keras. Ia memimpin dengan kehadiran—cukup berdiri di tepi sungai, dan semua tahu bahwa batas tak boleh dilanggar.
Selama Mahesa memimpin, Sungai Luma mengalir tanpa takut.
Namun, perubahan jarang datang dengan suara terompet. Ia datang sebagai bisikan kecil yang diabaikan.
Musim yang Tidak Seimbang
Suatu tahun, hujan datang terlambat. Awan berputar-putar di langit seperti kehilangan tujuan. Tanah mulai retak. Daun-daun muda gugur sebelum sempat menjadi teduh.
Para burung mulai mengeluh, ikan berenang lebih lambat, dan rusa-rusa muda harus berjalan lebih jauh untuk minum.
Di tengah kegelisahan itu, muncullah sosok yang cerdas, cepat bicara, dan penuh rencana: Kancil bernama Raka.
Raka bukan makhluk jahat. Ia hanya terlalu yakin pada pikirannya sendiri.
Dalam pertemuan makhluk lembah, Raka berdiri di atas batu dan berkata lantang,
“Kita tidak bisa bergantung pada sungai yang tak pasti. Kita perlu mengatur air, menyimpannya, mengendalikannya.”
Beberapa makhluk mengangguk. Kata “mengendalikan” terdengar menenangkan bagi yang takut.
“Kita bangun penampungan di hulu,” lanjut Raka. “Kita atur aliran. Yang mau ikut aturan, dapat air. Yang melanggar, menunggu.”
Mahesa menatap Raka lama.
“Air bukan milik kita,” katanya pelan.
“Tapi kekeringan bisa membunuh,” balas Raka cepat.
Dan di situlah benih masalah ditanam.
Bendungan Pertama
Dengan persetujuan setengah hati, Raka memimpin pembangunan bendungan kecil di hulu Sungai Luma. Awalnya, semua terlihat baik.
Air tersimpan. Beberapa sawah kembali hijau. Makhluk yang patuh mendapat jatah lebih awal.
Namun, bendungan punya satu sifat: ia tidak pernah cukup hanya satu.
Raka mulai membangun bendungan kedua, lalu ketiga. Setiap bendungan diberi penjaga. Air mulai dialirkan berdasarkan izin.
Burung kecil harus menunggu. Ikan tidak lagi bebas berenang. Kura-kura harus berputar jauh.
“Ini demi keteraturan,” kata Raka.
“Ini demi keselamatan,” katanya lagi.
Mahesa mulai jarang muncul di sungai. Usianya menua, dan keputusan yang ia sesali semakin berat.
Air Menjadi Senjata
Ketika musim hujan akhirnya datang, hujan tidak datang pelan. Ia datang seperti amarah yang lama dipendam.
Air dari hulu menumpuk di balik bendungan. Tanah di sekitarnya tak siap. Akar-akar mati karena kekeringan panjang.
Suatu malam, salah satu bendungan jebol.
Air turun seperti binatang liar. Sawah hanyut. Sarang rusak. Anak-anak hanyut terbawa arus.
Makhluk lembah panik.
“Ini bencana alam!” teriak Raka.
Namun Kura-kura Tua bernama Sagara menggeleng pelan.
“Alam hanya menjawab perlakuan kita.”
Yang Haus Menjadi Marah
Setelah banjir, musim kering datang lebih kejam. Sungai Luma menyempit drastis karena aliran alami telah rusak.
Kini, air benar-benar berada di tangan Raka dan para penjaga bendungan.
Yang patuh minum.
Yang lambat menunggu.
Yang berani protes diusir.
Rusa muda mulai mati kehausan. Burung pindah. Ikan mati terperangkap.
Dan dari padang jauh, datanglah kawanan Unta, dipimpin oleh Guram, membawa kemarahan dan kelelahan.
“Kami mengikuti sungai sejak nenek moyang,” kata Guram.
“Kini sungai berhenti di hadapan kami.”
Konflik pecah.
Sungai yang Diam
Sungai Luma, yang dulu bernyanyi, kini diam. Airnya menggenang, berbau, dan penuh ganggang mati.
Mahesa akhirnya keluar dari pengasingan. Ia berjalan tertatih ke hulu, menatap bendungan-bendungan tinggi.
“Air tidak mati,” katanya lirih. “Ia hanya menunggu.”
Raka menertawakan kekhawatiran itu.
“Kita sudah menguasainya.”
Pada malam tanpa bulan, tanah bergetar.
Hakim Terakhir
Hujan turun deras, lebih deras dari sebelumnya. Bendungan-bendungan tak sanggup menahan tekanan.
Satu per satu, mereka runtuh.
Air turun bukan sebagai kehidupan, tapi sebagai hukuman.
Bendungan hancur. Penjaga lari. Raka terseret arus dan selamat dengan luka parah—cukup untuk membuatnya hidup dan mengingat.
Ketika air surut, lembah berubah.
Bukan lebih baik.
Bukan lebih buruk.
Tapi lebih sadar.
Belajar Menjaga, Bukan Menguasai
Mahesa mengumpulkan makhluk yang tersisa.
“Kita lupa satu hal,” katanya.
“Kita mengira solusi cepat lebih penting daripada keselarasan.”
Raka berdiri tertunduk.
“Aku ingin menyelamatkan,” katanya. “Tapi aku memborgol sungai.”
Sagara menambahkan,
“Yang diborgol bukan hanya sungai, tapi kepercayaan.”
Mereka memutuskan sesuatu yang belum pernah dilakukan:
- Bendungan dihancurkan total
- Jalur sungai dipulihkan
- Air kembali bebas
- Penjaga diganti dengan perawat sungai
Pemulihan memakan waktu bertahun-tahun. Banyak yang tidak kembali. Namun anak-anak yang lahir kemudian tumbuh dengan satu cerita yang selalu diceritakan ulang.
Legenda Sungai Luma
Kini, Sungai Luma tidak lagi sebesar dulu. Tapi ia jujur. Ia mengalir sesuai musim. Ia meluap ketika harus, dan menyempit ketika perlu.
Dan setiap anak di Lembah Alara diajarkan satu kalimat sederhana:
“Air tidak pernah bisa dimiliki.
Ia hanya bisa dihormati.”
Karena siapa pun yang mencoba memborgol sungai,
pada akhirnya akan dibawa hanyut oleh arus yang ia ciptakan sendiri.
TAMAT




















